loader

PAK UCI PAHLAWAN SAMPAH RW 07 PERUM CIBUNAR

1 year ago


Pagi-pagi ketika matahari malu menampakan diri, udara dingin menyeruak, dan kehidupan baru mau terasa menggeliat. Seorang lelaki paruh baya dengan motor tua dan gerobak sampah di depannya menyusuri rumah demi rumah untuk sebuah tugas mulia, tugas memungut sampah. Tugas mengambil masalah rumah tangga dan membuannya di tempat yang sudah disediakan. Banyak yang menganggapnya profesinya biasa-biasa saja padahal sungguh sangat istimewa dan tidak tergantikan, jika seminggu saja sampah tidak diambil sudah terbayang kerepotan, dan kekumuhan warga perumahan.

Bapak pejuang kebersihan itu bernama Mang Uci, demikian warga perumbahan kami memanggilnya. Beliaulah yang setiappagi sigap menghilangkan masalah rumah tangga, yang jika tidak segera diambil akan menjadi busuk, bau, dan mengganggu estitika rumah. Tidak ada satu rumah tanggapun yang bebas dari sampah,dan Mang Uci membersihkannya dari halaman satu ke halaman lainnya. Tentu tak seorangpun mengininkan, jika sampah rumah tangga perumahan yang beraneka ragam itu tidak ada yang mengangkut, sudah pasti akan sangat bau, dan membuat tidak nyaman. Makanan lezat akan berubah menjadi bau di tempat sampah dalam hitungan jam, apalagi kalau bercampur dengan sampah plastik yang volumenya terbesar di rumah tangga perkotaan.

Sampah memang sudah menjadi masalah perkotaan, dan menjadi masalah utama kehidupan dan peradaban jaman milenial ini. Sampah juga telah merubah lahan pertanian yang subur menjadi rusak, menutup saluran drainase perkotaan, dan menimbulkan polusi tanah berkepanjangan yang tidak akan terurai bahkan selama puluhan tahun. Ada bahkan yang mempunyai pandangan sederhana tentang kehidupan, bahwa kualitas kehidupan sebuah negara dilihat dari cara bagaimana negara atau daerah atau bahkan desa mengelola sampahnya, hanya masyarakat dengan kebudayaan maju, dengan kesadaran tinggi dan dengan pengetahuan yang baik yang terbebas dari sampah.


Mereka yang gagal mengelola sampah menggambarkan gagal juga mengelola kebudayaan. Walaupun masih dalam tarap “membuang sampah” pada tempatnya setidaknya sudah menyelesaikan masalah dari depan rumah kita. Kita tidak tahu apakah sampah yang sudah “bersih” dari rumah kita itu menjadi masalah di sekitar TPA ketika dibuang, atau jadi sumber masalah lain ketika sudah dipindahkan, yang jelas ketika belum “diolah” maka sampah belum benar-benar selesai menjadi solusi. Para petugas membersih sampah seperti Mang Uci jumlahnya sangat banyak sebagian dari mereka hidupnya terabaikan, secara sosial, juga secara ekonomi, padahal mereka adalah pahlawan sesungguhnya di tengah kebudayaan yang semakin “plastik”. Tangan-tangan mereka yang membuat rumah kita masih nyaman untuk dikunjungi, kerja keras mereka yang membuat kita nyaman berlama-lama di depan rumah. Kesediaan mereka juga yang menjadikan anak-anak bisa bermain dengan bebas tanpa terlalu takut terpapar penyakit dari mikroba dari sampah rumah tangga.


Setiap rumah di perkotaan tidak memungkinkan untuk membangun instalasi pengolahan sampah, atau bahkan tempat bakar sampah sendiri-sendiri, sehingga sampah menjadi urusan petugas, dan kemudian kewajibannya menjadi sederhana “tinggal bayar”. Namun demikian sekalipun sudah bayar (alakadarnya) jangan sampai mengurangi rasa hormat kita pada para pejuang kebersihan, mereka yang rela bangun lebih pagi, bekerja lebih keras untuk hidup kita lebih menyenangkan.

0 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.