loader

Geliat Permukiman di Cibunar Girang

1 year ago


Alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman terjadi hampir di setiap daerah, tidak terkecuali di desa Cibunar. Perlahan tapi pasti lahan-lahan sawah yang dekat dengan jalan berubah menjadi permukiman. Sawah yang tadinya menghijau lambat laun berubah bangunan beton. Rumah merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar lagi, dan ketika lahan lain tidak ada, maka dengan terpaksa penduduk menggunakan lahan sawahnya, demikian terus terjadi dalam skala rumah tanga dan bahkan dalam skala perusahaan dan komunal. Kita saksikan sawah-sawah dengan kesuburan terbaik dengan irigasi teknis berubah menjadi rumah-rumah.

Perkembangan penduduk di Cibunar Girang perlahan tapi pasti akan terus mengalami peningkatan. Dulu kawasan ini menjadi salah satu sentra beras nomor 1. Seiring dengan perkembangan penduduk beberapa petak lahan sawah perlahan berubah menjadi permukiman. Lokasi ini sangat menarik karena jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat kota (hanya sekitar 3 KM dari jalan utama). Selain itu hamparan lahan cukup luas dengan view Gunung Cikuray, menjadi daya tarik tersendiri untuk mengembangkan daerah ini menjadi daerah permukiman. Mungkin, eksotisme sawah akan segera berubah. Hanya tinggal menunggu waktu saja, dimana setiap sawah pinggir jawan menjadi permukiman.

Pemerintah sebenarnya sudah berupaya untuk mengurangi laju alih fungsi lahan pertanian terutama pertanian sawah. Pemerintah mengeluarkan aturan mengenai lahan sawah abadi, dan dilanjutkan dengan pemetaan by name by address, dimana diketahui data siapa dan dimana para pemilik lahan berada lengkap dengen peta bidang lahan dan koordinatnya. Tapi itu ternyata tidak dapat menjadi solusi, karena bagian pentingnya bukan pada pemetaaannya tetapi pada pengendaliannya. Pemerintah tidak mempunyai sumber daya dan sistem juga solusi yang memadai di tingkat teknis operasional, sehingga alih fungsi lahan akan terus terjadi sepanjang kebutuhan lahan untuk permukiman selalu ada. Secara formal mekanisme pengendalian ada pada penerbitan IMB, sehingga daerah sawah dapat diupayakan tidak keluar IMBnya. Dalam prakteknya warga perdesaa yang membangun rumah banyak yang tanpa diawali dengan pengajuan IMB. Mereka baru mengajukan IMB bahkan setelah bangunan jadi, biasanya jika ada keperluan formal seperti mengajukan kredit bank dengan agunan rumah. Nah pemerintah sering “tersudutkan” untuk membuat ijin bangunan yang sudah jadi, seperti buah simalakama, serba salah, akhirnya dengan pertimbangan tertentu yang lebih baik, IMB keluar.

Geliat perkembangan permukiman di kampung Cibunar Girang ada dalam dua sudut pandang, dari sisi ekonomi menandakan perkembangan sementara dari sisi konservasi menandakan beban lingkungan yang semakin berat. Tapi kehidupan akan terus berlangsung, kita tidak bisa meratapi dan terus menerus bernostalgia tentang hijau padi, sawah yang menenangkan jiwa, dan kehidupan perdesaan yang guyub dan menyengakan, karena perubahan adalah keniscayaan sekalipun kita hindari. Kalimat bijak yang mungkin menjadi hiburan dari setiap keadaan adalah “mengambil hikmahnya” demikian halnya dengan alih fungsi lahan sawah.

Ada banyak hal yang dapat diambil hikmahnya. Selagi masih ada sawah yang dilihat, mari kita gunakan untuk jalan-jalan, karena setelah semua menjadi permukiman baru akan disadari bahwa betapa memandang sawah itu salah satu kemewahan tingal di desa. Nikmatilah, syukurilah!

0 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.