loader

MAKAN TANPA SELFIE ITU IBARAT MAKAN SAYUR TANPA GARAM

1 year ago


Malam-malam dapat kiriman dari kawan-kawan para bapak-bapak kekinian yang apapun diphoto dan update status, kalau gak dishare ke facebook ya ke WAG.  Mungkin kawan kawan itu cape bekerja seharian untuk bangsa, negara, daerah dan terutama untuk istri anak dan orang-orang yang dicintai. “mungkin mereka lelah…”

hehehehe

Urusan makan jaman ini memang lebih berwarna, bukan sekedar makananya  yang  presentasinya makin oke, tapi motif makan juga beragam,  hal-hal yang dipertimbangkan juga makin banyak.  Oh ya..  boleh ya saya buat sekilas tulisan tentang makan dan makanan, juga tentang sebuah kecenderungan selfie…

Yang tersindir maaf, memang itu maksudnya  hehehe

Makan apa?

Makan bagi kalangan milenial bukan sekedar memilih makan yang enak tapi juga harus gaul, harus memilih yang unik, yang rasanya nendang, rasa yang saking uniknya bikin berantem di mulut, antara rasa manis, asin, dan rupa-rupa tekstur makanan harus heboh saat dikunyah, makin heboh makin kekinian.  Biar lebih kekinian juga harus digambarkan dalam status pendek di media sosial berikut photonya “rasanya gila, empuk banget, atau eenak tenan…”

Kalau yang dimakan kemahalan tetap saja ngomel, saking keselnya ada kawan belanja sate, ternyata sangat mahal, langgsung saja sisa sate dikuyah dan di buang di kamar kecil… hehehe ada ada saja. Lalu juga update di status “mahalna wungkul ngenah henteu….”



Makan dimana

Dimana kita makan di era milinial kadang lebih penting dari apa yang dimakan, makin kekota, makin popular, makin unik tempat makan, makin ada area yang instagramable manjadi “buruan tempat makan”. Ada bahkan kawan aktivis partai PDI yang bahkan tempat makan juga harus berwarna merah, mungkin itu bagian dari  loyalitas kepada partai yang sudah meresap ke dalam pikiran, hati dan bahkan  mata dan lidah.

Kawan yang lain lagi (tentu tidak akan saya sebut inisalnya B)  memilih makan itu di tempat yang sepi, biar tidak di-ekspose, sengaja memilih tempat yang “tersembunyi” karena makannya tidak ingin terkespose, dan tentu saja makannya tidak sendiri, yang model mencari tempat yang sepi ini biasanya makannya berdua

Ada juga  teman pemuja wanita yang memilih tempat yang pelayannya cantik, jadi misalnya jauh-jauh dari Garut ke Indramayu, memilih menahan lapar dijalan untuk dapat makan di tempat yang dagangnya cantik, apalagi kalau bukan untuk jadi obyek kamera dan selfie, sambil update status “gagal fokus pelayan cantik”

Jadi tentang makan makin kompleks selain makan apa, tapi juga makan dimana dengan siapa, kapan dan kemudian selfie..  kalau gak selfie gak afdhol, ga kekinian, selain itu harus sedikit gokil biar makin gokil makin kekinian.  Asal jangan makan kawan saja, makan hati kawan juga gak boleh apalagi makan tulang kawan.

Setuju gak?  Jangan makan tulang kawan, gak enak, biar makan tulang ayam saja

Hehehe

Makan sama siapa?

Sebenarnya ini yang paling asyik, makan bersama orang yang dicintai terserah itu orang tua, istri, anak, saudara atau kawan dekat. Ada juga yang pengen makan dengan WIL katanya lebih nikmat, tapi yang paling nikmat adalah makan bersama kawan, walaupun belum  tentu kawan senang makan dengan kita. Kalau boleh memilih mungkin pengennya sih makan dengan yang imut-imut. Di sunda ada istilah botram yang menjadi kultur untuk makan bancakan beramai-ramai yang memberi sensasai dan keseruan



Makan Era Milenial

Itulah sekedar makan jaman milenial bisa menjadi sangat serius, sangat  diperhatikan, dan urusannya bukan sekedar memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan secara fisiologis dan memperlancar metabolisme tubuh, energi dan mengganti jaringan yang rusak sebagainama pelajaran biologi. Makan sudah mempunyai dimensi sosial yang banyak, berpengaruh pada eksistensi, dan juga simbol kebahagian dan cinta.

 Entah….

0 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.