loader

SEBUNGKUS BINGKISAN IBU MUDA BERWAJAH MANIS

4 hari yang lalu


Pagi-pagi seorang ibu muda berparas manis memakai daster sedikit  kusut, berjalan cepat membawa kantong plastic. Isinnya nampak kepenuhan,  terdiri dari banyak  sampah sisa rumah tangga. Tadi malam ada makan enak di rumahnya, seluruh keluarga besarnya datang membawa membawa rindu. Mereka sudah lama tidak bertemu, jadi pertemuan keluarga itu diisi dengan makan bersama. Ibu muda itu sangat baik pada tamu dan saudara,  sudah tentu menyajikan  hidangan  yang banyak cukup beraneka ragam.

Plastik botol eskrim, tusuk sate, plastic bungkus berlogo minimarket, bungkus coklat, bungkus makanan ringan, tak ketinggalan beberapa kemasan styrofoam  bekas pisang aroma. Semua sampah   itu bersatu dalam satu plastic besar bermerk minimarket terkenal.  Tidak ada pemisahan sampah sebelum dibuang sehingga, seluruh sampah plastik bersatu dengan sisa makanan basi, sisa mainan anak-anak, dan bekas bekas kertas cangkang telur.


Bingkisan Cinta Setiap Hari

Mungkin lebih tepat jika yang dibawa oleh ibu muda itu adalah sebuah “bingkisan pagi”.  Sebuah produk sisa yang ‘dipersembahkan” setiap hari.  Setelah isinya dikonsumsi, yang tinggal adalah sampah.  Kumpulan sampah segera  ditenteng sepagi mungkin karena baunya sudah mulai tidak enak, apalagi jika ada makanan berlemak tinggi seperti sisa  kuah gulai kambing yang mulai basi.

Lebih cepat keluar rumah lebih baik!

Entah mengapa di lingkungan perkotaan itu tempat sampah tidak memadai.  Hanya ada tempat sampah sebagian ruas jalan sementara di banyak bagian jalan tidak ada sama sekali.  Warga pagi pagi sekali keluar dari gang-gang dan rumah rumah pinggir jalan.  Sebagian ibu-ibu  sebagian lagi bapak bapak sama menenteng bungkusan plastic ke pinggir jalan.  Itulah karya pertama mereka setiap hari,  pada alam raya. Sebungkus sampah penuh plastic tanpa perlakuan sama sekali!

Sampah plastic itu, tidak akan terursai di dalam tanah, dan tetap menjadi masalah bahkan sampai puluhan  tahun lamanya!

Rumah Ibu muda itu hanya berjarak 50 meter dari jalan raya.  Hanya butuh satu menit lebih untuk sampai di jalan raya, bertemu dengan ibu-ibu dan sebagian bapak bapak lain tetanga rumah. Setiap pagi kompak mengirim “bingkisan cinta”.  Mereka tinggal di kiri kanan sSebuah jalan mulus ibukota. Jalan cukup besar sehingga memungkinkan di tengahnya dibangun separator.   Tanpa ragu sampah itu diletakan dalam separator jalan yang sekaligus menjadi taman kota.  Bunga tanaman hias dan setumpukan tampah menjadi pemandangan setiap pagi!

Agak mengherankan sikap itu tetapi seperti sudah menjadi tradisi. Para penduduk lokal kehilangan cara mengolah sampah, apalagi memelihara keindahan jalan raya di dekatnya.  Namun demikian itulah realitas umum dari banyak kota di Indonesia.

Bagi para pekerja dengan mobilitas antar kota sangat tinggi,  kondisi ini dapat dengan mudah ditemui jika berkendaraan sepagi mungkin.  Kondisi demikian terjadi  seperti di Garut, di Cianjur, di Sukabumi, di beberapa kota di Aceh, di Sumut dan bahkan sekelas daerah wisata seperti Lombok pun sama. Cobalah pergi lebih awal dan keliling kota, maka realitas itu  akan dengan mudah ditemui, realitas sampah perkotaan. Bukan saja kota yang disebukan tetapi di banyak kota lain juga kurang lebih sama!

 

 

Kamuflase Kemajuan

Taman yang bersih dan indah seringkali mengkamuflase masalah lingkungan perkotaan.  Sebagian warga tidak merasa terganggu karena sebelum hari menjelang siang kota kembali seperti bersih.  Sebelum hari menjadi siang, para petugas kebersihan datang mengangkut sampah melemparkannya ke dalam truk. Sampah bau itu diambil secara manual.  Sayangnya tentu tidak semua sampah terangkut dengan baik, karena banyak sampah dibungkus sekedarnya.  Warga sebagian membung sampah dengan cara dilempar, sehingga berserak berceceran mengotori separator jalan. Sebelum petugas dating sampah plastik tertiup angin bergerak sebelum kemudian berhenti di saluran drainase.

Sampah yang berserak setiap hari, menumpuk.  Tumpukan sampah terakumulasi bertahun tahun membentuk kota yang tidak terurus. Kota semakin kotor, saluran drainase semakin sempit, dan kehidupan kita berada pada level ktitis secara lingkungan.  Tata kelola sampah hanya berhasil mengangkut sebagian sampahnya saja, sementara yang sebagian besarnya   berserakan di saluran drainase, di bantaran sungai dan menumpuk di sungai besar perkotaan secara menyedihkan.

Pendekatan Agama dalam Penanganan Sampah

Di masa yang akan datang, perlu ada upaya lebih keras tentang sampah, juga lebih komprehensif.  Tantangan Pendidikan lingkungan semakin besar.  Pendidikan masyarakat pun harus lebih ditekankan semakin massif. Akan elok jika  tema-tema sampah dibahas dalam khutbah-khutbah keagamaan. Katakanlah dalam satu sesi khutbahnya ada pembahasan bahwa pemisahan organic dan an organic adalah bentuk ibadah, dan segala macam tindakan tidak peduli  pada sampah adalah bentuk “teroris lingkungan”.  Lebih keren jika tema  sampah tidak berhenti pada kata “kebersihan sebagian dari iman”  lebih keren bisa dibahas implementasi  per RT dan per RW. 

Gerakan keagamaan terhadap lngkungan memang tidak sekuat gerakan yang berbau politik.  Menyenangkan jika ditemui sebuah potongan khutbah seperti ini “dalam rangka kita menjadi warga yang bersih dan mencintai kebersihan sebagai pengamalam ajaran agama,  juga dalam rangka tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dari mimbar ini saya minta RW 01 mulai hari besok konsolidasi ibu ibunya mari membuat amal shaleh bidang lingkungan. Juga kepada RW 02 dibawah komando “Fulan” mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Apalah arti pengetahuan kelau tidak mengejewantah dalam kehidupan, apalah artinya kesadaran jika tidak terejewantah dalam keseharian, dalam konteks  lingkungan jangan-jangan indicator iman kita lemah, mari kita beristigfar untuk dosa kita pada ketidakpedulian lingkungan.

“Saya ingin lingkungan masjid kita bebas sampah!”

Lalu kita dengar, orang-orang berisigfar memohon ampun pada Alloh atas ketidakpedulian, rasa malas, dan hidup yang tidak “berjamaah” dalam mengelola lingkungan mereka sendiri!

0 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.