loader

AIR MATA LELAKI MANTAN ANGGOTA TNI

5 hari yang lalu


Mata lelaki tua itu mulai merah, kemudian nampak butir air mata mengalir dari kelopak matanya yang keriput.  Tak kuasa ia menahan sedih yang mendesak ke dalam dadanya. Sepagi itu lelaki mantan anggota TNI yang dulunya sangat gagah menahan tangis.  Terus berkata-kata lirih sambil menatapi tumpukan sisa bongkaran barang tak berguna di depan saya. 

Tatapan iba, dan aneh!

“sisa atap plasik bekas ini saya ambil, untuk buat saung kecil di samping rumah,  enggak apa apa sangat buruk juga, karena di samping rumah saya ada seorang wanita hamil 5 bulan, dia diusir dari rumah mertuanya”  ungkapnya sambil menyeka air mata! Dia lalu melanjutkan dengan getir “akan saya buatkan saung kecil, yang penting dia bisa berteduh, entah untuk makan dan lahirkan nanti kita cari jalan keluar lagi, saya gak tega”

Air matanya terus bercucuran, sisa sisa kegagahan sebagai mantan prajurit masih terlihat, dadanya yang biasa tegap terguncang hebat.

Saya enggak bisa berkata-kata, juga enggak kuasa sekedar bertanya mengapa perempuan hamil itu diusir? Karena sudah tidak penting lagi sok ingin tahu terhadap penderitaan orang.  Apapun alasannya, dia adalah manusia, sangat butuh perlindungan dan apalagi sedang hamil. Hamil butuh ketenangan, asupan gizi yang baik dan tentu dukungan psikologis yang memadai.  

Saya merasa  sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di desa saya sendiri.

 

Mereka Yang Terbuang

Ibu itu mungkin bukan satu-satunya yang hidupnya pedih di negara ini.  Berbagai kisah pedih sering kita dengar dan kita saksikan di media massa dan televisi. Kisah tentang warga yang tidak mempunyai rumah layak huni, tentang orang sakit sendirian, atau tentang orang tua jompo yang menderita di akhir hayatnya.

Ada ribuan mungkin ratusan ribu kisah orang miskin dan terbuang di tengah pembangunan, dan tema-tema global yang seksi dan penuh warna warni kemewahan.

Banyak yang menangis sedih di saat warga lain tertawa bahagia.  Mereka  menahan lapar di saat warga lain kekenyangan, mereka  termarginalkan di saat warga lain menikmati kebersamaan. Mereka  juga kebingunan di saat tetanganya sangat bersyukur. Sebagian warga kita bahagia karena panen besar, naik jabatan, sudah sempurna ibadahnya, anaknya wisuda, atau dapat proyek,  ada juga yang menyelenggarakan  pesta syukuran rumah baru. 

Dalam kehidupan “orang terbuang”, penerimaan dan kebahagiaan adalah kemewahan.  Tak ada pesta dan doa.  Tak ada yang dapat dirayakan apalagi  mengundang teman teman. Bahkan seperti tidak ada alasan untuk teman, saudara, kerabat,  larut dalam kegembiraan. Dunia seperti sepi, sempit dan memedihkan, sekalipun sebenarnya ramai, penuh keceriaan  di sekitarnya.

Saya sebenarnya ingin cerita tentang betapa kita harus peka dan peduli. Tapi kemudian agak susah menjelaskan pedih kepada yang hidupnya selalu senang, menjelaskan lapar pada yang selalu kenyang. Juga kehilangan cara memberi tahu tentang perasaan terbuang sementara sebagian kita tak pernah “dibuang”. 

 

Peradaban yang Gagal

Itulah sebagian kenyataan hidup kita, sebuah potret memilukan di bingkai ke-Indonesiaan kita, di bingkai keber-agamaan kita.  Masih banyak orang pedih yang kehilangan harapan di negeri subur ini. Di desa yang penduduknya mampu, dan di antara pesta-pesta kita.   Inilah pesan kehidupan yang sering gagal diterima dengan hati terbuka. Potret buruk rupa yang terselip diantara program pengentasan kemiskinan seperti PKH, dana desa, dompet duafa, TV peduli, kitabisa.com dan banyak ikhtiar lainnya.



Setelah banyak program pengentasan kemiskinan digulirkan, setelah seminar-seminar pembangunan di hotel mewah diselenggarakan. Kita temui data ribuan milyar rupiah program turun bertahun tahun. Jalan jalan baru mulus, jalan desa di rabat beton, pematang sawah pun dibuat bangunan jalan setapak dari semen.  Kita juga dapati dengan “kagum” GOR desa mewah dimana mana berdiri dengan skala raksasa. Semakin mewah sebuah GOR di desa dapat dihipotesakan sebagai semakin kuat dominasi elit desa  sekaligus symbol kemiskinan idea pemberdayaan.

Di tengah program pengentasan kemiskinan yang seperti “mulia”, pembangunan desa yang seperti “powerful” kenapa kemiskinan, keterbuangan, kepedihan masih juga hadir. Sebagian kita dengar dan saksikan, selebihnya yang jauh lebih banyak tenggelam kesepian tanpa publikasi dan perhatian. Mungkin yang sebagian itu adalah tetangga rumah satu desa kita, termasuk desa saya.  Mereka adalah saudara-saudara sedesa, sekeyakinan,  sesuku, sebangsa dan se-Iman yang seharusnya berlimpah cinta.

Mungkinkan kita sebagai warga sudah gagal membangun peradaban?  Apakah fenomena seperti itu berarti bahwa pengetahuan, institusi, jabatan, dan sederet teori gagal di implementasi, atau memang sesungguhnya sudah sangat gagal tapi tidak disadari sejak lama!  Atas kegagalan ini siapakah saja yang akan ditanya di negeri akhirat pada saat hisab. Apakah tetangga yang tak peduli, apakah RT, RW dan Kades yang belum berhasil melindungi, apakah camat yang kehilangan data dan cara, atau Bupati?

Hari Pembalasan Setelah Kehidupan

Jangan jangan di Hari perhitungan setelah kehidupan kita, Gubernur dan  Presiden  yang diraih dengan penuh hasrat pun, akan digugat oleh seluruh orang yang tidak terlindungi di negeri ini? Mereka yang pedih mengadukan pada Tuhan, tentang  perut yang lapar, tentang masa depan yang hilang, dan tentang ketidakadilan yang permanen!

Mendesak untuk kita secara sungguh sungguh melibatkan hati dan pikiran untuk membuat instrument baru pengelolaan kemiskinan.  Mari kita jujur bahwa cara saat ini sekalipun juklak dan juknisnya dibuat oleh para cendia sudah tidak relevan lagi. Program dan kegiatan lama sudah kuno. Kita perlu cara baru yang lebih benar, lebih melindungi lebih cepat, lebih kolaboratif dan solusi realtime. Miskin dan terbuang juga lapar butuh respon hitungan jam, bukan dengan program 3 bulanan.  



Kenapa cara-cara baru tidak terpikir karena pikiran para pemangku kepentingan tidak merdeka, masih terjebak dalam pola pikir birokrasi yang rigid dan kaku. Juga program dan kegiatan lama yang terbukti gagal tetapi masih dipuja

Kita bisa jika kita cinta, kita ingin, kita yakin, dan kita berusaha sekuat tenaga dengan iklas.  Kemiskinan memang tidak bisa dihilangkan, jangan pernah berfikir menghilangkan kemiskinan karena kemiskinan bukan aib. Tapi ketidakadilan distribusi sumber daya itulah aib sesungguhnya, kegagalan menanggulanginya adalah dusta sebuah program. System yang tidak mampu mengatasi masalah ini adalah system pura pura yang mendustakan logika, mendustakan keyakinan dan dengan sangat keras dalam Bahasa angga sebagai “mendustakan agama”

Masih ngeyel?

Ditulis dengan  penuh cinta oleh  

Aa Subandoyo

2 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.