loader

PELANTIKAN HMI DAN KOHATI CABANG GARUT REFORMASI PEMIKIRAN DAN GERAKAN HMI UNTUK UMMAT DAN BANGSA

6 hari yang lalu

PELANTIKAN HMI DAN KOHATI CABANG GARUT

REFORMASI PEMIKIRAN DAN GERAKAN HMI UNTUK UMMAT DAN BANGSA

Oleh: Dr. Ani Marlina, M.Pd


Selamat atas dilantiknya pengurus  HMI dan KOHATI Cabang Garut pada hari kamis tanggal 7 Februari 2019. Menjadi pengurus  HMI  di Garut sangat  spesial dan karenanya beruntung, karena dinamika sosial politik dan bahkan agama di   Garut cukup tinggi.   Sangat baik untuk melatih kader berfikir dan bersikap. Banyak isu nasional dimulai dari Garut dan kemudian menyebar ke daerah lain. Dalam waktu dekat saja demo bendera tauhid, demo guru honor yang menasional dimulai dari Garut.  Garut selalu asyik karena berlimpah tema kajian, juga lansekap keragaman alam (gunung api, lautan, kebun, dan tambang) menjadi semacam “miniature kekayaan dan keragaman  Indonesia” Rahim semua anak bangsa! 


Refleksi HMI

HMI telah menjadi icon aktivis mahasiswa sejak lama. Mendengar kata HMI sudah  jadi semacam “top of mind” untuk seluruh  aktivis organisasi kepemudaan di luar kampus. Hadirnya memberi ruang gerak sejarah dan warna   bagi para mahasiswa dan juga bagi perjalanan bangsa ini. 

Tujuh puluh dua tahun lalu HMI dilahirkan dengan semangat perubahan dan menyiapkan kader penerus perjuangan bangsa. Peran HMI dalam mencetak kader sudah tidak diragukan. Hampir di seluruh partai politik, di organisasi publik,  di perguruan tinggi dan diperusahaan-perusahaan kader HMI bertebaran, seperti bintang dilangit. Mereka membuat pembeda dimanapun beraktivitas.  Terlatih  sebagai  konseptor, organisatoris serta praktisi yang ahli, sangat tajam menganalisis serta sangat artikulatif dalam menyampaikan gagasan. 

Dinamisasi jenjang karirnya  dijadikan satu lingua prangka  yang dijadikan satu pondasi organisasi perkaderan. 


Di HMI, setiap kader dididik militan terhadap keyakinan agama, kecintaan keluarga,  dan kontribusi kepada bangsa.  Konsep pengkaderan tentu didesain sangat komprehensif sejak menempuh jenjang karir basic training (LK1), Intermediate Training (LK2), dan Advance Training (LK3) juga agenda-agenda penunjang lainnya.  Setiap kader dicetak untuk menjadi manusia peduli, pembelajar, dan pembela nilai. Menanamkan kesadaran dan budaya intelektual berbasis analisis logis dan kritis hingga menjadi karakter yang khaffah pada setiap momen kehidupan.

Kaderisasi Adalah Proses

Kader adalah sebuah proses  capacity building juga character building. Basic training mengajarkan segudang pengetahuan penting agar sangat kritis secara kognitif,  bermental petarung dan menyukai respek pada pesoalan secara apektif, dan  tentu saja terampil dalam bertindak.  Level ini masih perlu ditambah, karena belum cukup membuat kader menjadi militan, loyalitas masih dipertanyakan!

Teori, simulasi, dan pengkondisian konseptual sangat bagus tetapi belum cukup, karena itu ada sebuah proses lanjutan untuk upgrade dan update keilmuwan.  Diskusi, pembahasan aneka isu adalah sebuah proses Panjang untuk melatih dan mempertajam konsep, mengasah kepekaan, terampil bersikap dan berperan dalam kehidupan nyata. 

Proses selanjutnya adalah jenjang intermediate dan advance training,  di level inipun belum bisa menjamin kader bisa millitan dan loyal. Karena pada dasarnya  tataran teoritis dan konseptual tidak otomatis melahirkan militansi.  Militan bukan  sekedar ranah pikiran, militan itu masuk jauh lebih dalam ke dalam hati, saat kepekaan terhadap persoalan sinergis dengan ke-Imanan kepada Tuhan. 


Inilah tantangan proses pengkaderan selanjutnya untuk melatih kader agar selalu melibatkan Tuhan pada jiwanya.  Berfikir tajam, berargumen hebat,  melawan ketidakadilan dengan semangat juang tiada banding tetapi hatinya damai, pikirannya jernih dan bernas. 

HMI Sebagai Sebuah Ekosistem Sosial Politik

HMI dapat diibaratkakn sebagai Ekosistem yang lengkap,  ciri ekosistem yang lengkap itu adalah keragaman yang masih terjaga dengan indah. Tidak satu jenis pikiran, satu garis idea, juga tidak taklid kepada tafsir kebenaran. 

Keragaman, interaksi, dan relasi antar peran juga konflik adalah fitrah dalam sebuah ekosistem. HMI dengan demikian ada di seluruh  kegiatan apapun yang mengandung unsur “organisasi”. Sekali berhadapan sebagai teman, di lain kali berkompetisi sangat sengit sebagai lawan, Karena itulah inti dari pengkaderan yaitu tetap menjadi aktual dan memberi pembeda dimanapun hinggap dalam sebuah ekosistem organisasi. 

Sebagai sebuah ekosistem lengkap, keberadaan HMI perlu memberi manfaat dan sekaligus keindahan. Gagasan harus terus disemai, ditumbuhkan, didewasakan dan  dimatangkan dengan perdebatan. Tak peduli di tingkat komisariat dan apalagi di tingkat pusat.  Tanpa persemaian gagasan dan perdebatan maka HMI mati. 


Sebagaimana alam, setiap jaman ekosistem berkembang, organisme bertahan dengan evoluasi, atau mati. Setiap jaman  melahirkan tantangannya sendiri, tantangan hari ini adalah bagaimana HMI kritis bukan saja ke luar tetapi ke dalam, tidak saja artikulatif dalam tema tema kebangsaan tapi juga dapat membuat sebuah proses reformasi internal, penguatan internal, dan terobosan internal!

Perbanyaklah membaca juga alam, memperdebatkan tema tapi juga mengasah hati, menemui akademisi dan para tokoh tetapi juga menemui para petani, kaum marginal dan mereka yang termarginalisasi kehidupan. Dengan tokoh intelektual gagasan diasah, bertemu  dengan pelaku sosial hati terasah. Karena HMI tidak sekedar butuh gagasan tapi juga butuh sebuah sikap penuh cinta pada kehidupan! 

Pergilah membaca alam dan kehidupan. Menemui para petani, menemui lahan yang penuh luka, lingkungan yang rusak. Gerakan tangan untuk mengais lahan-lahan yang tercemari pestisida logam berat, pergi ke pusat-pusat pencemaran berat. Lalu bersikap! 


Tantangan Kepengurusan Baru

Sebagai sebuah organisasi yang kuat secara konseptual, idealnya HMI menentukan tantangan sendiri, mendefinisikan target, dan kemudian meraihnya dengan keren!  Namun demikian, Untuk keperluan pengkayaan perspektif, setidaknya ada beberapa tantangan yang dirasa perlu di-share.  

Reformasi HMI hari ini harus mampu bagaimana hasil-hasil  pemikiran yang  semula hanya bisa dibaca oleh akademis, menjadi bisa dicerna dengan mudah oleh masyarakat luas (rakyat jelata).   Mental borjuis sejak awal harus dihindari sehingga jangan sekedar bangga terlibat dan menjadi pembicara pada forum-forum mewah tapi gagal dalam obrolan kehidupan.

Di era kedepan, artikulatif saja tidak cukup. Sekedar jago merumuskan masalah secara detail sudah tidak keren lagi. Perlu disain solutif yang komprehensif, karena HMI bukan saja harus melawan tapi juga menawarkan.  Agar pemikiran HMI tidak saja dapat dibaca dijurnal-jurnal saja menjadi bisa dibaca di kehidupan. 

Reformasi pemikiran harus mampu membuat kader bisa menyatu dengan cinta dan jiwa, karena jika seseorang sudah mencintai segenap hati, kader harus sangat hati-hati bertindak. Semua tindakannya adalah “kitab keyakinan dan pengetahuan” Oleh karena itu jangan biarkan apapun tanpa reformasi berfikir sekedar menjadi pembeda kecerdasan, bukan mencipta kesadaran dan konsep baru!

HMI harus mampu menjawab bagaimana reformasi pemikiran  agar tidak saja keren membahas urusan presiden tetapi juga mampu terlibat dalam urusan di depan mata dan hidungnya sendiri. Punya pandangan komprehensif dari  urusan sampah hingga angkasa raya. Menjadi ironis ketika pembicaraan diskusi sangat ideologis dan strategis tetapi urusan sosial di depan mata tidak disikapi.  


Mari kita ambil kasus sederhana, Sekarang menjadi topik utama yang belum tuntas juga diselesaikan, sampah bungkus permen, puntung rokok itu hal sepele bagi seseorang karena cuma satu yang dibuang sembarang, itu adalah pemikiran sempit yang harus direformasi. Kenapa ? bayangkan jika dalam sehari sejumlah 247,7 juta jiwa penduduk Indonesia jika berfikiran sempit seperti itu semua, membuang sampah bungkus permen, puntung rokok atau sampah, maka inilah akibatnya, tiba-tiba sampah bentuknya bersaing dengan bukit-bukit di gunung.

HMI belum bisa menemukan solusi atas urusan besar ini, reformasi pemikiran HMI harus bisa menyelesaikan persoalan lingkungan sebagai satu-satunya tempat manusia untuk eksis.

Reformasi pikiran yang mampu bertegur sapa dengan cinta, bukan pikiran yang kehilangan alasan mengapa pikiran diciptakan. Reformasi pikiran yang mampu melompat pada create value bukan hanya sekedar  added value yang diprioritaskan dengan alasan sebagai sumber eksistensi. Reformasi pemikiran menjadi gerakan untuk ummat dilakukan dengan bagaimana membuka seluas-luasnya pemikiran-pemikiran yang sempit menjadi peka pada keadaan yang menjadi sumber reformasi yang massive. 

Mari Merdekakan Pikiran

HMI harus mampu mereformasi pemikiran yang eksklusif menjadi inklusif, karena ide dan gagasan harus menembus batas sosial ekonomi. Ide dan gagasan harus dimerdekakan, jangan dikurung dibentengi atas nama ilmu pengetahuan dan cita rasa bahasa akademik yang angkuh.  Kekuatan IQ, EQ, SQ, AQ dan BI yang dimiliki HMI harus mampu membuka reformasi pemikiran yang ramah tanpa pandang bulu. 

Advirtism Question/AQ (kecerdasan ketahanmalangan) yang menjadi salah satu modal kuat yang dimiliki HMI harus menjadi pondasi yang tak menjadi eksklusif. Kecerdasan menjaga kesehatan (Body Intelligences/BI) HMI harus direformasi, bagaimana menguatkan visi dan misi dengan mempertimbangakan kondisi brain dalam posisi alpha, betha, gamma, dan theta, tidak hanya sebatas menjaga kesehatan dan keselamatan tubuh saja, tapi lebih luas lagi.  Bagaimana HMI bisa  menyelamatkan dirinya, organisasinya, ummatnya, bangsanya, dan agamanya dari tindakan-tindakan  agar jadi ummat yang cerdas, ummat yang tidak gampang menyerah, dan bangsa berkualitas!

Reformasi pemikiran HMI untuk ummat dan bangsa dimulai dengan bagaimana membuat konsep bahkan platform organisasi yang menyediakan seluruh instrument kebutuhan masyarakat dari tingkat desa sampai pusat. Gerakan seluruh aktivist komisariat untuk peduli data tentang  “suara kehidupan” dan data dari desa desa di sekitar kampusnya, terlatih menjawab dan bertanggung jawab pada isu isu lokal. Tidakkah malu jika  selama ini isu itu lokal  sekedar  sebuah konsep bukan menjadi sebuah gerakan?.

Aktivis masa depan perlu terlibat dalam pengelolaan big data.   Terlibat dalam merumuskan instrument berbasis teknologi informasi. Membangun basis data kondisi nyata masyarakat yang sedang sakit, yang tidak berkecukupan kebutuhan primer, berapa jumlah anak yang kekurangan gizi, dan seluruh kondisi masyarakat umumnya. Lalu mengolahnya dalam sebuah dashboard besar tatakelola negara!

Sehingganya uluran-uluran tangan baik dari para HMI yang sudah dikatakan cukup dapat membantu  mendesain tatakelola baru. Bacaan bacaan lama tentang tata kelola negara sudah tidak memadai lagi, perlu bacaan baru.  Perlu menjadi catatan bahwa dalam konteks era digital menjadi kudet, menghasilkan gagasan yang  menyesatkan. Mengacu kepada pedoman, buku, konsep, pengetahuan  kudet adalah sebuah kemunduran sejarah!

Begitupun untuk tingkatan cabang, korkom, badko sampai pusat mempunyai  sebuah  dahsboar data kongkrit masyarakat. Dengan begitu HMI dapat menjadi garda terdepan dan perisai masyarakat yang sesungguhnya, tidak hanya menjadi program jangka pendek mengadakan baksos pada masyarakat. 

Perubahan memang  tidak mudah dilakukan dengan pengurus yang terbatas. Memanfaatkan teknologi Era digital menjadi pilihan pergerakan. Dengan teknologi HMI dapat mempunyai sebuah instrument untuk  untuk mensupport  konsep reformasi gerakan HMI untuk Ummat dan bangsa. 

Banyak media yang bisa diajak kerjasama untuk merealisasikan reformasi pemikiran gerakan HMI. Salah satunya dengan media klipaa.com yang fokus pada pengembangan desa dan kota.  Klipaa adalah embrio untuk membangun basis data kehidupan.  Dimungkinkan menjadi semacam media partner untuk menyampaikan seluruh idea keren kader pada pembangunan  dan ribuan isu lccal di seluruh Indonesia. 

Ada lebih dari 84 ribu desa dan kelurahan  dan ratusan ribu pelajar di Indoneia yang bisa dikolaborasi dimana HMI bisa perperan aktif sebagai moderasi perubahan nasional ke depan.  Moderasi yang digerakan dari seluruh desa dan keluaran di Inonesia dan seluruh pelajar mahasiswa yang menjadi warganya. 

Tantangan jaman ini adalah membangun kolaborasi yang indah. HMI  perlu terus membumi agar kehadirannya dapat dirasakan oleh masyarakat kampus dan masyarakat umum. Sebagai organisasi kader insan cita yang bernafaskan Islam. Maka tugas kader adalah peduli, peka, berbagi, saling mengingatkan, mengulurkan tangan dengan tepat sasaran, iktiar maksimal. Itulah reformasi pemikiran dan gerakan sesungguhnya untuk ummat yang akan berimpact pada kemajuan bangsa. 


Penutup

Kepengurusan HMI Cabang Garut yang baru saja dilantik pada hari kamis tanggal 7 Februari 2019, semoga dapat intens dan istiqomah melanjutkan estafeta kepemimpinan. Kembali diingatkan agar selalu  istiqomah dengan segenap jiwa, sepenuh hati melibatkan Tuhan dalam setiap momen reformasi pemikiran.  Selamat membangun gerakan yang menginspirasi generasi mengokohkan negeri.  

Aamiin!

Ditulis dengan sepenuh cinta oleh @choyei


3 Komentar

Silahkan login untuk berkomentar.